Kenapa Potong atau Warnain Rambut Identik dengan Depresi?
Semua orang sepertinya pernah lewatin momen ini, entah terjadi sama diri sendiri atau teman-teman, momen di mana potong atau warnain rambut jadi keputusan yang diambil saat depresi.
Entah karena sifatnya yang transformatif dan bisa bikin merasa menjadi pribadi yang baru, kedua hal itu jadi sesuatu yang dilakukan oleh banyak orang.
Kenapa bisa gitu ya?|
Depresi Lalu Potong Rambut
Dalam istilah psikologi, ada yang disebut sebagai Compulsive Hair-Cutting Depression. Istilah ini merujuk kepada kasus extreme di mana orang-orang memotong rambutnya sendiri berulang-ulang ketika sedang dilanda depresi.
Perilaku ini berawal dari istilah Yunani kuno yaitu Trichotemnomania yang dibentuk dari 3 kata yaitu ‘thrix’ yang berarti rambut, ‘’temnein’ yang berarti memotong, dan ‘mania’ yang berarti kegilaan.
Termasuk Body Focused Repetitive Behaviour Disorder
Perilaku Compulsive Hair-Cutting Depression ini termasuk ke dalam Body Focused Repetitive Behavior Disorder yaitu penyimpangan yang berhubungan dengan perilaku akan tubuh.
Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), penyimpangan ini masuk dalam spektrum Obsesive-Compulsive Disorder (OCD).
Meskipun jatuh dalam spektrum tersebut, keduanya tidak bisa disamakan karena memiliki kondisi yang benar-benar berbeda.
Kenapa Depresi Warnain Rambut?
Sedangkan untuk kasus mewarnai rambut, hal ini juga disinyalir punya hubungan erat dengan anxiety dan depression.
Pasalnya, dalam sebuah artikel jurnal berjudul “The correlation between color choices and impulsivity, anxiety and depression”, ternyata ada hubungan antara kondisi kepribadian seseorang dengan karakteristik warna yang dipilih.
Hal ini terbukti lewat survei untuk penelitian ini yang melibatkan 200 partisipan dari rentang usia 18-50 tahun. Dan kesimpulannya menunjukan bahwa warna yang melambangkan kondisi mental yang tidak stabil dan depresi adalah warna ungu
.
Ungu dan Depresi
Warna ungu adalah campuran dari biru dan merah. Kombinasi dari kedua warna ini secara psikologis memberikan karakteristik situasi yang berat. Keputusan impulsif yang diambil untuk mewarnai rambut dalam situasi sulit kebanyakan mengarah pada warna ungu.
Sebagai informasi tambahan, setelah melalui observasi, warna ungu juga sering digunakan sebagai make-up bagi mereka yang menyalahgunakan obat-obatan dan memiliki suicidal thoughts.
Sedangkan dalam budaya pop, warna ungu juga dikorelasikan dengan warna misteri, horor, atau suatu bentuk kejahatan baik dalam ranah visual maupun audio-visual seperti film.
-
Serial Baru Kim Woo-Bin “Black Knight” Tayang di Netflix
-
‘Ramai’ Artis K-Pop Masuk Militer, Negara Mana Saja yang Masih Terapkan Wamil?
-
Kemenkes: Sekitar 100 Ribu Orang Tidak Sadar Kalau Mereka Terjangkit HIV